KORANFESBUKER.com – Nilai tranksaksi jual beli Like dan follower palsu di media sosial jumlahnya cukup besar. Mengutip pemberitaan VOA Indonesia, dalam setahun uang yang berputar di bisnis ini capai Rp 3 triliun. Apa yang buat bisnis ini begitu marak peminat?
Peneliti serta blogger sekuritas asal Italia Adrea Stroppa serta Carla De Micheli memperkirakan jika potensi nilai tranksaksi jual beli follower palsu di Twitter capai USD 40 juta per tahunnya. Sedangkan di Facebook, jual beli ‘jempol’ meraup USD 200 juta per tahun. Jika ditotal, ada uang yang berputar hingga USD 240 juta per tahunnya atau hampir senilai Rp 3 triliun.
Sudah hampir satu dasawarsa Facebook dirilis dan membuat pengguna terus berusaha bagaimana mengeruk keuntungan finansial dari akunnya, seperti dilansir sidomi.com. Ini juga termasuk akun-akun perusahaan yang berlomba-lomba untuk mendongkrak nilai popularitas mereka.
FB dilaporkan baru-baru ini jika mereka miliki sekitar 14,1 juta akun palsu diantara 1,18 miliar jumlah pengguna terdaftar. Dari belasan juta akun palsu ini ternyata diperjual-belikan demi tujuan dan maksud tertentu.
Tahun 2013 lalu, Departemen Luar Negeri AS kedapatan jika habiskan dana USD 630 ribu guna mendongkrak popularitas akun mereka di media sosial. Akun mereka di FB cukup populer dengan koleksi 400 ribu Like.
Sementara itu, salah satu situs yang bergelut di bisnis ini WeSellLikes.com, berpendapat jika jual beli Like memang miliki prospek yang cukup potensial. Perusahaan berlomba-lomba membeli Like sebab mereka was-was.
“Takut ketika orang-orang melihat halaman Facebook mereka dan hanya ada 12 atau 15 Like, mereka akan kehilangan pelanggan,” jelas CEO WeSellLikes.com.
Salah satu pegiat bisnis ini di Indonesia, Ali Hanafiah mengaku jika ia tawarkan 1.000 follower palsu dengan harga Rp 100 ribu. Ia juga bermodal tak sedikit untuk bisnis ini. Menyewa server sendiri dengan biaya sewa per bulan guna alamat IP yang digunakan untuk membuat ribuan akun palsu di media sosial.