ilustrasi

JAKARTA –

Seorang ibu rumah tangga warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Ervani Emihandayani menjadi tersangka, sebab diduga
melanggar Undang-Undang ITE dan pencemaran nama baik karena tulisannya
di Facebook.

Suami Ervani, Alfa Janto bersama kedua
orang tua Ervani meminta advokasi perihal kasus yang menimpa istrinya
itu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Jumat (31/10/2014).

“Pada
9 Juni 2014, Ervani dilaporkan ke Polda DIY karena memberi kritikan
lewat status di Facebook kepada salah seorang supervisor Toko Jolie,
tempat suaminya bekerja sebagai pegawai keamanan,” kata Kepala
Departemen Advokasi LBH Yogyakarta, Hamzal Wahyudin.

Atas
laporan itu, Polda lantas menetapkan Jolie langsung sebagai tersangka,
sebab telah dianggap melanggar pasal 27 dan Pasal 45 Undang-Undang
Informasio dan Transaksi Elektronik (UU ITE), serta Pasal 310 dan 311
KUHP mengenai pencemaran nama baik.Berkas kasus itu, telah diserahkan
Kejaksaan Negeri Bantul, DIY pada Rabu (29/10).

Sementara
itu, Alfa menjelaskan, kalimat yang diunggah di Facebook oleh istrinya
merupakan luapan emosi setelah menerima kabar bahwa dirinya
diberhentikan sepihak sebagai pegawai keamanan di Toko Jolie di Jalan
Kyai Mojo, Yogyakarta. Pemberhentian itu terjadi lantaran Alfa keberatan
dipindahtugaskan ke Cirebon oleh perusahaan.

“Pemberhentian
itu keluar setelah saya menulis surat kepada pimpinan yang intinya
keberatan jika dimutasi ke Cirebon,” kata dia, seperti dilansir inilah.com.

Menurut
Alfa pesan dari tulisan istrinya di Facebook hanya bermuatan kritik
terhadap keputusan pihak pimpinan Toko Jolie yang dinilai telah
berlebihan.

“Apalagi saya diberhentikan tanpa diberikan hak pengganti, berupa gaji terakhir, pesangon, dan hak lainnya,” kata dia.

Adapun
konten yang ditulis isterinya, Ervani di Facebook : “Iya sih pak Har
baik, yang nggak baik itu yang namanya Ayas dan spv (supervisor)
lainnya. Kami rasa dia nggak pantas dijadikan pimpinan Jolie Jogja
Jewellery. Banyak yang lebay dan masih labil seperti anak kecil!”.

Mengenai
kasus itu, Hamzal Wahyudin menilai kalimat tersebut tidak dapat
dikatakan mengandung pencemaran nama baik jika didukung oleh fakta.
Kepolisian, kata dia, seharusnya melakukan penyaringan terlebih dahulu
sebelum menerima laporan.

UU ITE, menurut dia, masih
terlalu general dan belum menjelaskan secara spesifik karakteristik
kalimat seperti apa yang dapat digolongkan sebagai pencemaran nama baik.
“Delik pencemaran nama baik sesuai UU tersebut seharusnya objektif,
bukan subjektif,” kata dia.

LBH Yogyakarta, kata dia,
akan berupaya melakukan audiensi ke Kejaksaan Bantul, dengan harapan
agar kasus tersebut dapat diselesaikan di luar jalur hukum.”Meskipun
kami pesimistis kasus itu akan dihentikan,” kata dia. (*)