Tony Abbott

AUSTRALIA –
 Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott mengisyaratkan adanya serangan balasan bagi Indonesia, jika tetap bersikeras melaksanakan eksekusi mati bagi dua warga Australia gembong Bali Nine.

Dilansir dari laman Guardian dan Viva, Senin (16/2/2015), Abbott mengatakan bahwa publik Australia merasa muak dengan apa yang akan terjadi (eksekusi mati) dan berharap Indonesia akan menyadarinya. 

Ditanya apakah Australia akan menarik diplomatnya dari Indonesia, Abbott mengatakan pemerintah Australia jelas akan mencari cara untuk membuat ketidakpuasan mereka diketahui oleh Indonesia.

Abott menegaskan eksekusi mati akan memperburuk hubungan diplomatik kedua negara. Dia juga menyampaikan kritik terhadap Indonesia, yang mencoba menyelamatkan warga negaranya saat dijatuhi hukuman mati di negara lain. Tapi dalam kasus Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, Indonesia memperlihatkan standar ganda dengan menolak permohonan dari Australia untuk pembatalan eksekusi mati.

“Jika itu yang tepat bagi Indonesia untuk meminta dan mengharapkan semacam grasi, itu pasti benar bagi kita untuk bertanya dan mengharapkan semacam grasi juga” kata Abbott.

Sebagai bentuk penolakan, sebuah petisi yang berisi lebih dari 150.000 tanda tangan meminta grasi disampaikan anggota keluarga mereka pada pertemuan di Sydney. Petisi rencananya akan disampaikan kepada pemerintah Indonesia dan Australia.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dan juru bicara urusan luar negeri organisasi buruh Australia  Tanya Plibersek, juga meminta kepada presiden Indonesia untuk menunjukkan belas kasihannya.

“Mereka (Myuran dan Andrew) telah menunjukkan penyesalan yang mendalam dan berkomitmen untuk membantu tahanan lain, mereka layak kesempatan untuk terus membayar utang mereka kepada masyarakat,”kata Plibersek. (*)