FESBUKER – Revolusi Mental yang menjadi jargon kampanye Presiden Joko Widodo salah satunya akan disosialisasikan melalui situs www.revolusimental.go.id, di bawah Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Namun sehari setelah diluncurkan, situs itu malah tidak dapat diakses.
Pihak kementerian yang dikepalai Puan Maharani sudah mengadakan jumpa pers dan menyebut bahwa situs tersebut diretas. Namun sampai hari kelima sejak diretas, situs itu pun masih belum dapat diakses. Lalu apa kata Puan?
“Kalau itu teknis jangan tanya ke saya, teknis tanya ke Sesmenko,” singkat Puan di sela acara peluncuran buku ‘Mozaik Demografi’ di Graha Bimasena, Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2015).
Namun Puan menegaskan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah dengan mengadakan jumpa pers terkait hal tersebut. Lebih lanjut lagi, situs itu akan diperbaiki dan dievaluasi dengan mendengarkan masukan dari publik.
“Tentu saja kantor Kemenko PMK sudah melakukan press conference memberikan rilis berkaitan dengan hal yang terjadi tersebut. Saya rasa hal itu sudah diperbaiki, dievaluasi dan tentu saja kami berharap bahwa masyarakat bisa memberikan masukan-masukan bagaimana kemudian ke depan gerakan Revolusi Mental ini bisa menjadi satu gerakan nasional yang bisa dilakukan secara bergotong royong oleh seluruh elemen masyarakat,” kata Puan.
“Ya kita harus sepakat dulu bahwa semua hal yang berkaitan dengan manfaat buat bangsa ini ya secara gotong royong harus kita lakukan bersama-sama. Bahwa ada pro dan kontra ya itu namanya hidup, dinamikanya pasti ada pro dan kontra,” imbuh Puan, seperti dilansir Detik.
Dalam jumpa pers beberapa waktu lalu di kantor Kemenko PMK disebutkan biaya pembuatan situs itu kisarannya maksimal Rp 200 juta, tanpa dipaparkan jumlah pasti anggarannya. Sesmenko PMK Sugihartatmo saat jumpa pers menyebutkan angka itu untuk mengklarifikasi kabar bahwa situs itu menelan biaya Rp 140 miliar.
“Kami ingin meluruskan informasi yang berkembang terkait pembiayaan program pembuatan website revolusi mental yang dikabarkan telah menelan biaya Rp 140 miliar adalah tidak benar. Anggaran persiapan website dialokasikan maksimal Rp 200 juta,” kata Sesmenko PMK Sugihartatmo dalam jumpa pers di Kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (27/8/2015) sore.
Sugihartatmo mengungkapkan, memang ada nominal anggaran hingga RP 149 miliar, namun itu bukan untuk pembuatan website, tetapi itu jumlah anggaran keseluruhan program revolusi mental di Kemenko PMK. 
Penggunaan instrumen website hanya salah satu dari sejumlah program Gerakan Nasional Revolusi Mental. Program-program yang lain meliputi sosialisasi dan komunikasi publik, koordinasi pusat dengan daerah, kesekretariatan dan operasional.
Kemenko PMK mengaku penyebab situs www.revolusimental.go.id tak bisa diakses karena diretas atau di-hack. Pihak Kemenko PMK akan menggandeng Kemenkominfo untuk mengatasi masalah ini.
Namun, meski diretas Kemenko PMK masih belum berniat untuk lapor polisi. Padahal tindakan peretasan merupakan bentuk kriminalitas yang seharusnya bisa dilacak dan ditindak oleh penegak hukum.
“Jadi begini, walau pun itu diretas, tetapi kami menanggapi positif bahwa dengan ini kami jadi sadar kalau situs yang kami buat belum aman. Maka itu pengamanan akan kami tingkatkan setelah ini. Ini situs Revolusi Mental, maka itu kami juga akan melakukan pendekatan positif pula,” kilah Sugihartatmo.
Pada hari ini, Senin sekitar pukul 12.27 WIB, wartawan mencoba mengakses situs revolusi mental. Hasilnya, situs masih down dengan tulisan sebagai berikut:
Terima kasih atas saran dan masukannya terhadap web revolusimental.go.id. Sejak awal dalam melaksanakan setiap kegiatan, Kami menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, termasuk dalam membangun web revolusimental.go.id. Kami akan bekerja keras untuk memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Mari bersama-sama melakukannya. (*)